batu cantik on May 24th, 2010
Bookmark and Share
indonesian event trade show journal for handicrafts, jewelry, handbag, gifts, interior, exterior in Jakarta. the most popular event to show up and presentation business products talents  for the  world. over thousand new products 100% handmade from suppliers designer all over indonesian island.
indonesian trade expo in 2010 event show up this is new event from batu cantik company
Smesco trade fair by sme ministry
100 % product indonesia unlimited
we love products indonesia

Tags: , , , ,

batu cantik on April 1st, 2010
Bookmark and Share

Usaha Kecil Menengah (UKM) makin terpuruk apabila pemerintah tidak memberikan perhatian khusus kepada industri berbasis masyarakat tersebut dalam persaingan perdagangan bebas akibat kebijakan China-Asean Free Trade Agreement (CAFTA)

“Sekitar 90% industri yang ada di Yogyakarta adalah UKM, dan sektor tersebut sangat rentan terhadap persaingan bebas apabila tidak mendapatkan perhatian dari pemerintah. Apalagi sekarang ini, nilai ekspor DIY juga turun sekitar 20 persen,” kata Ketua Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API) DIY Jadin Jamaludin di Yogyakarta, Sabtu (30/1).

Menurut dia, industri yang sudah mapan seperti industri besar memang tidak akan mengalami tekanan kuat akibat kebijakan CAFTA yang mulai diberlakukan awal tahun, namun tekanan akan lebih banyak dialami oleh industri kecil yang menyerap sekitar 900 ribu pekerja tersebut.

“Bisa-bisa, pelaku UKM yang tidak dapat bertahan justru akan berbalik untuk menjadi pedagang yang memasarkan barang-barang produksi China karena memang harganya lebih murah,” katanya.

Ia mencontohkan, pangsa pasar yang dinikmati oleh industri dalam negeri, khususnya tekstil adalah 22%, sedangkan sisanya adalah produk impor.

“Jika pemerintah tidak dapat berbuat apa-apa, pangsa pasar tersebut bisa-bisa semakin turun ditambah daya beli masyarakat yang saat ini kurang bahkan bisa turun tajam,” katanya.

Keunikan dari produk Yogyakarta, menurut Jadin, tidak menjamin bahwa negara lain tidak akan menirunya, karena saat ini China telah membajak desainer-desainer dari Indonesia untuk mendesain produk bernuansa Indonesia, misalnya batik.

“Memang tidak sepenuhnya sama dengan batik buatan Yogyakarta misalnya, tetapi produk yang dihasilkan sudah sangat menyerupai batik dengan harga yang murah. Masyarakat menengah ke bawah tentu memilihnya,” katanya.

Kampanye atau seruan untuk mencintai produk dalam negeri, lanjut dia, hanya akan menjadi opini belaka jika daya beli masyarakat kurang karena masyarakat akan lebih memilih untuk membeli produk dengan harga lebih murah.

Perhatian pemerintah, menurut Jadin memang sudah ada, namun realisasi di lapangan yang dapat langsung dirasakan oleh masyarakat belum ada, khususnya untuk pelaku industri kecil dan menengah.

“Seharusnya, pemerintah sudah mulai bersiap diri sejak kebijakan tersebut dikemukakan pada 2002 dan pada 2005 ditetapkan akan dilakukan pada 2010. Lima tahun itu terbuang percuma dan kini baru kebakaran jenggot,” katanya. (ant/bun)

Tags: , , ,

batu cantik on March 30th, 2010
Bookmark and Share

Pemerintah maupun swasta sebelum memberikan bantuan kepada usaha kecil dan menengah (UKM) terlebih dahulu perlu melihat peluang pasar, apakah produk yang dihasilkan pengusaha itu mempunyai pasar atau tidak.

“Itu penting demi kesinambungan usaha serta tidak salah jalan bagi pemerintah maupun swasta memberikan bantuan kepada UKM sebagai penguatan modal usahanya,” kata Kasubdin Pengembangan Industri Dinas Perinddag Sulawesi Tenggara, Najamuddin Arifin Kendari, Sabtu (16/1).

Di Sultra, terdapat belasan ribu UKM yang kini sangat membutuhkan uluran bantuan dari pemerintah dan swasta, utamanya saat harga kebutuhan pokok produksi melambung di pasaran.

Ia mengatakan, rata-rata UKM yang ada di Sultra, sebagian besar masih menggunakan modal sendiri, sehingga untuk menambah alat dan bahan pokok produksi, masih membutuhkan bantuan penguatan modal dari pihak kedua dalam hal ini pemerintah dan swasta.

Perputaran modal UKM selama ini, masih mengalami “stagnasi” karena antara biaya yang dikeluarkan dan yang diterima seimbang dan dampak penyerapan tenaga kerja bisa berkurang dari tahun ke tahun.

“Oleh karena itu, Disperinddag sebagai instansi yang mengawasi langsung para UKM, tidak serta merta memberikan bantuan tetapi harus melihat dulu peluang pasar yang dihasilkan UKM itu,” katanya.

Para UKM yang dibina dan diberi bantuan adalah mereka yang menjual di pasaran, yang memang tidak memiliki modal, namun produk yang dijual itu mempunyai pasar yang laku terjual seperti biji mete, minyak kelapa, kopra, makanan/minuman serta aneka produk yang dihasilkan lainnya.

Umumnya, mereka sangat membutuhkan bantuan alat produksi, karena alat produksi yang digunakan selama ini sudah cukup tua dan mulai rusak, katanya.

Najamuddin mengatakan, pelaku UKM selama ini masih kesulitan dalam mengakses permodalan dari Perbankan, karena selain kurangnya pengetahuan dan informasi yang mereka miliki, sehingga masih mengandalkan modal sendiri yang serba terbatas dan mempengaruhi produktivitas mereka.

Selain itu, kreativitas UKM yang masih rendah menyebabkan produksi lokal tersebut masih belum bisa bersaing dengan produksi luar daerah seperti Pulau Jawa maupun daerah lainnya di pasaran, terutama dari segi kemasan dan pengepakan barang.

Untuk itu, dalam rangka mengembangkan kreativitas dan produktivitas UKM, pihaknya terus melakukan berbagai upaya seperti kegiatan pelatihan, sosialisasi baik langsung maupun secara tidak langsung. (ant/riz)

Tags: , ,